Futur, Penghambat Kebangkitan Islam
Selasa, 19 Mei 2009 0 komentarSangat menyedihkan, penyakit futur kini banyak menyerang aktivis dakwah. Dalam mengarungi perjuangan dakwah, para kader acapkali dihadapkan pada berbagai permasalahan rumit. Awal kali menapakkan kaki di dunia dakwah, ghirah mereka begitu kuat. Tapi akibat kesalahan dalam menyikapi tata cara hidup beragama, semangat itu lalu turun secara drastis. Optimisme yang dulu begitu menggebu-gebu, berubah menjadi pesimisme. Saat-saat seperti inilah diri menjadi tidak bersemangat lagi. Setelah itu, mengarah pada menurunnya tingkat iman. Padahal iman itu merupakan bagian paling berharga bagi umat islam, menjadi ukuran sejauh mana loyalitas seseorang terhadap agamanya. Karenanya penyakit futur ini tidak boleh diabaikan.
Secara bahas futur berarti “terputus setelah sebelumnya bersambung” . Makna lain adalah “terdiam setelah bergerak”. Dalam terminologi Islam, futur dimaksudkan terjadinya gejala kevakuman dalam beragama dengan ditandai hilangnya semangat beribadah.
Yang perlu diwaspadai adalah jika wabah tersebut merata dan menggerogoti sebagian besar umat ini, maka tak mungkin kebangkitan islam dapat tercapai. Yang terjadi mungkin sebaliknya kekuatan umat semakin tenggelam bahkan karam. Semua musuh Islam siap sedia mencengkeramkan kuku-kukunya yang tajam guna mencabik kehormatan umat ini (Ash-Shahwah al-Islamiyah ru’yat naqdiyat min daakhil, Dr Yusuf Qardhawi).
Penurunan ghirah keberagamaan tersebut disebabkan beberapa faktor, antara lain : Pertama tenggelam dan hanyut dalam kemaksiatan. Sejak manusia dilahirkan, secara sunnatullah hatinya memang bersih, ibarat air yang begitu jernih. Kebersihan dan kejernihan itu semakin terlihat jelas jika hati selalu ditaburi dengan nilai-nilai keimanan, sebaliknya hati itu akan menjadi kotor oleh perbuatan dosa. Kemaksiatan membuat kita jauh dari hidayah. “Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran, dan penglihatannya dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai,”(QS an-Nahl :108)
Kedua, berlebihan dalam menjalankan agama. Setan begitu pandai memperdaya manusia. Ia tebarkan 99 kebaikan, tapi disamarkannya 1 keburukan yang akan menghapus semua kebaikan. Seorang muslim seringkali terpancing untuk mengerahkan semangatnya dalam beribadah secara berlebihan sehingga menyebabkan kelelahan fisik dan mental. Ia tidak menyadari bahwa tubuh dan jiwa manusia itu serba terbatas. Ia hany mampu memikul beban berat yang normal dengan batas waktu yang wajar. Jika didera dengan pemaksaan, tentu yang terjadi adalah pelanggaran terhadap fitrahnya sendiri. Sangat fatal akibatnya, semangat ibadah yang begitu intens akan berubah menjadi kelemahan dan kejenuhan.
Rasululah saw bersabda, “ Jauhkanlah dirimu dari sikap berlebihan dalam beragama (beribadah). Karena sesungguhnya orang-orang sebelum kamu binasa akibat berlebih-lebihan dalam beragama,” (HR Ahmad). Dalam riwayat lain, beliau bersabda, “Beramallah kamu sesuai kemampuanmu, karena sesungguhnya Allah tidak akan jenuh hingga kamu jenuh sendiri. Dan sesungguhnya amal yang paling disukai Allah adalah amal yang kontinu meskipun sedikit,” (HR Bukhari dan Muslim ) . Firman Allah, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, tetapi janganlah kamu berlebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan,” (QS al-A’raf: 31).
Ketiga, cinta dunia dan melalaikan akhirat. Tingkat kelemahan seorang kader akan selaras dengan tingkat kedekatannya dengan akhirat. Cinta akhirat akan melahirkan rasa optimisme dalam diri. Semakin tinggi intensitas seorang muslim unutk selalu mengingat kematian dan hari akhiratm semakin mantap segala gerak dan sepak terjanngnya. Ia akan senantiasa berhati-hati dalam menentukan langkahnya. Sebalikanya semakin cinta dunia akan menyebabkan diri semakin lupa segalanya. “Barangsiapa menghendaki keuntungan di hari kemudian, akan Kami berikan tambahan kepada keuntungannya itu. Dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia ini, akan Kami berikan keuntungan itu kepadanya, tetapi ia tidak mempunyai bagian lagi pada hari kemudian,” (QS Asy-Syura: 20)
Keempat, memisahkan diri dari jamaah. Jauhnya sesorang dari jamaah membuatnya semakin mudah didekati setan. Seperti ditegaskan Rasulullah saw, “Setan hanya menerkam manusia yang menyendiri sebagaimana serigala menerkam seekor domba yang terlepas dari kawanannya,” (HR Muslim).
Hidup berjamaah dan berkumpul dengan orang-orang shalih memberikan pengaruh positif, ketimbang hidup mengucilkan diri. Dalam jamaah kita selalu intropeksi diri, sehingga langkah kita selalu berada di atas rel kebaikan. Karenanya, Ali ra mengatakan, “Sekeruh-keruhnya hidup berjamah jauh lebih baik daripada beningnya hidup sendiri.” Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa memisahkan diri dari jamaah satu jengkal saja, maka sesungguhnya diatelah melepaskan tali Islam dari lehernya, “ (HR Bukhari).
Mengingat begitu pentingnya arti ghirah dalam beragama, maka lebih bijak kalau setiap kita selalu bermuhasabah, mengintropeksi diri. Yang perlu diingat, sampai sejauh manakah kita melangkah? Apakah sudah ada kemajuan atau malah sebaliknya? Kekhawatiran akan jatuh ke jurang futur akan pupus bila kita istiqamah menjalankan agenda ibadah kita dengan baik, menjauhi kemaksiatan dan menjaga ketaatan, tidak belebihan dalam beragama, mengingat kematian dan hari akhirat di samping komitmen dengan jamaah. Teruslah berjuang kader-kader HMI, bangkit, dan pantang menyerah, pantang menolak amanah..!!!
Ahmas Faiz
Ketum Komisariat Arsip SN™
