Menjadi Pahlawan >> Bagian I - Refleksi Hari Pahlawan 10 Nopember -
Dzikroyat Rabu, 12 November 2008Menghargai Pahlawan
Suatu hari, di beberapa belahan bumi Indonesia, sekelompok orang berpakaian dominan putih, berbaris rapi bak tentara, seorang diantaranya terlihat membawa bendera.Di sekitar mereka sang pasukan berbaju putih tampak orang-orang sedang berdiri meskipun dengan pandangan dan pikiran yang sulit diterka. Di antara mereka ada yang berbaju safari, berseragam batik dan peci kuning-keoranyean, berseragam tentara, pegawai negeri, anak-anak sekolah, namun hampir dipastikan tidak ada yang tidak berbaju (karena tidak mampu beli baju). Tak lama kemudian bendera mulai dikibarkan dan lagu dikumandangkan, sontak hampir serentak atas komando seorang yang berteriak di tengah lapangan, maka orang-orang yang berada di area tersebut mengangkat tangan dan menjatuhkan sisi samping dalam telapak tangan di sekitar alis mereka. Itulah yang konon disebut dengan cara menghormat. Dan aksi dramatis massa tersebut disebut upacara bendera. Rupanya hari tersebut adalah hari yang diperingati sebagai hari pahlawan. Boleh yakin bila di belahan bumi Indonesia yang lain akan melakukan aksi yang serupa, tergantung tingkat kesadaran, hingga tingkat kepentingan dan kebutuhan. Beberapa stasiun radio dan televisi menganjurkan untuk mengheningkan cipta pada detik-detik tertentu dengan harapan mendoakan para pahlawan yang telah gugur membela negeri kita yang tercinta ini (?).
Dan hampir sejak kemerdekaan Negara ini diproklamirkan, model penghargaan para pahlawan akan sebatas itu. Kalau lebih baik sedikit diteruskan dengan safari ke makam-makam yang konon bersemayam para pahlawan, yang umumnya kebanyakan dari militer (apa iya?). Lebih aneh lagi (karena mungkin hanya di Indonesia), ada kalangan yang meributkan gelar kepahlawanan. Karena alasan jasa dan pengabdian seorang selama memimpin negeri ini, maka mantan presiden yang akhirnya dipaksa turun secara kontroversial oleh teman-teman mahasiswa dimintakan gelar pahlawan. Angin (debat) pun berhembus kencang. Sementara itu baru saja akhir-akhir ini, orang yang meneriakkan “Allahu Akbar” dan menggerakkan “banteng-banteng” melalui RRI pada tanggal 10 Nopember 1945 dinyatakan baru mendapatkan gelar resmi sekitar tanggal 10 Nopember 2008. Bayangkan saja, sampai butuh 63 tahun mendapat titel “PN” alias pahlawan nasional. Seandainya gelar pahlawan bisa beli seperti di oknum perguruan tinggi swasta tentu dibutuhkan syarat pahlawan untuk menjadi calon legislatif hingga presiden. Atau karena melanggengkan kebiasaan beberapa manusia Indonesia yang menghargai seseorang ketika ia telah tiada. Satu lagi yang aneh, karena terlalu banyak informasi yang mulai berlebihan, maka ada yang mencoba membingungkan masyarakat Indonesia tentang perbedaan “pahlawan” dan “teroris”.
Dan hampir sejak kemerdekaan Negara ini diproklamirkan, model penghargaan para pahlawan akan sebatas itu. Kalau lebih baik sedikit diteruskan dengan safari ke makam-makam yang konon bersemayam para pahlawan, yang umumnya kebanyakan dari militer (apa iya?). Lebih aneh lagi (karena mungkin hanya di Indonesia), ada kalangan yang meributkan gelar kepahlawanan. Karena alasan jasa dan pengabdian seorang selama memimpin negeri ini, maka mantan presiden yang akhirnya dipaksa turun secara kontroversial oleh teman-teman mahasiswa dimintakan gelar pahlawan. Angin (debat) pun berhembus kencang. Sementara itu baru saja akhir-akhir ini, orang yang meneriakkan “Allahu Akbar” dan menggerakkan “banteng-banteng” melalui RRI pada tanggal 10 Nopember 1945 dinyatakan baru mendapatkan gelar resmi sekitar tanggal 10 Nopember 2008. Bayangkan saja, sampai butuh 63 tahun mendapat titel “PN” alias pahlawan nasional. Seandainya gelar pahlawan bisa beli seperti di oknum perguruan tinggi swasta tentu dibutuhkan syarat pahlawan untuk menjadi calon legislatif hingga presiden. Atau karena melanggengkan kebiasaan beberapa manusia Indonesia yang menghargai seseorang ketika ia telah tiada. Satu lagi yang aneh, karena terlalu banyak informasi yang mulai berlebihan, maka ada yang mencoba membingungkan masyarakat Indonesia tentang perbedaan “pahlawan” dan “teroris”.

0 komentar:
Posting Komentar