Menjadi Pahlawan >> Bagian 3 (habis) ~ LTMI™ CABANG SURABAYA

Menjadi Pahlawan >> Bagian 3 (habis)

Rabu, 12 November 2008

Belajar Jadi Pahlawan

Bagaimana?

Meneladani kepahlawanan tentu saja bukan dari perbuatan asal aneh, asal bunyi, asal tulis (mungkin seperti tulisan ini), asal mati, bahkan asli tapi palsu. Jika diteliti dengan sepintas, maka ada beberapa sifat dominan yang menjadikan seorang layak disebut sebagai pahlawan. Dengan harapan pula sifat-sifat tersebut dapat kita praktikkan meskipun dengan apologi “belajar”. Sifat atau karakteristik para pahlawan tersebut antara lain :
1. Peduli. Tanpa kepedulian tidak akan tergerakkan. Tanpa tergerakkan takkan berhasil suatu perjuangan. Kepedulian seorang pahlawan lahir dari suatu idealisme yang mantap atau bahkan secara lebih sederhana karena cinta. Tentu saja cinta yang melampaui batas hasrat hewani, bukan cinta biasanya Siti Nurhaliza, apalagi cinta SMU.
Belajar peduli, berarti belajar mengerti. Tidak semua orang memiliki pengertian, karena tidak bergantung pada tingkat kecerdasan otak semata. Namun mengerti bisa dipelajari dan harus dilatih. Belajar mengerti berarti belajar menghayati kehidupan dan peran kita sebagai manusia di kehidupan. Untuk menghayati kehidupan harus banyak “iqra”, tapi jangan lupa berlandaskan “bismirabbikalladzi khalaq”. Karena sesuatu yang “dibaca” dan “dihimpun maknanya” tanpa Nama-Nya bisa tersesat. Tidak percaya?Dont try that at yourself, so just think about it.
2. Berani. Tanpa keberanian takkan terjadi. Kebenaran membutuhkan keberanian. Bahkan dalam sebuah hadits Rasul SAW dinyatakan bahwa orang yang melihat kemungkaran namun diam saja dijuluki sebagai setan bisu. Naudzubillahi min dzalik. Keberanian tidak selalu tampil dengan garang ataupun greng. Rasulullah SAW adalah seorang pemberani, namun tetap berwajah ceria dan santun. Keberanian akan terukur sejauh mana kita mau mengungkapkan bahkan memberikan kebenaran atau kebaikan saat keadaan tidak semestinya.
Belajar berani tidak sama dengan ikut olahraga yang ekstrim hingga harus loncat dengan kaki diikat ke bawah seperti posisi ayam yang dijual di pasar. Belajar berani juga tidak harus bertapa di tempat angker atau keramat. Belajar berani dapat dimulai dari jujur dan kritis terhadap apa yang terjadi kemudian mengambil sikap ksatria. Belajar berani juga melatih hati untuk tidak tunduk,rendah diri, dan takut kepada selain Allah AWJ.
3. Ikhlas. Tanpa keikhlasan segala kebaikan akan menguap. Sesuatu yang menguap tersebut tentu tidak akan membekas dengan baik. Para pahlawan yang benar-benar pahlawan melakukan perjuangannya dengan ikhlas. Mungkin tingkat ikhlas yang paling rendah adalah untuk kebaikan orang lain, orang banyak, dan ikhlas yang tertinggi hanya mencari ridla ALLAH SWT.
Belajar ikhlas tidak sama dengan tidak merasakan apapun dan membuat hati dan perasaan hampa. Belajar ikhlas dapat dimulai dari niatan yang benar karena Allah SWT. Kemudian meyakini bahwa segala kebaikan kita hakikatNya atas izinNya, sehingga tidak sombong, lalu berfokus pada kelemahan dan dosa untuk diperbaiki. Belajar ikhlas juga berarti belajar untuk mudah bersyukur dan bersabar. Sungguh luar biasa…!
4. Anda temukan dan praktikkan sendiri…
Begitulah, mudah diucap, mudah ditulis, tapi butuh perjuangan dalam pelaksanaan. Ternyata untuk menjadi pahlawan pun butuh perjuangan. Tapi kita harus bisa!

Darimana?Kapan?
Bisa dimulai darimana saja. Seperti kata Aa’ Gym dimulai dari diri sendiri , paling sederhana, dan lingkungan sekitar kita. Kapanpun. Adakah yang perlu dibenahi dari diri kita? lingkungan sekitar kita? Apa langkah sederhananya? InsyaAllah jika istiqamah akan menggaung dengan sendirinya, dan membuat yang lain ikut peduli dan tergerakkan. Sesungguhnya kebaikan itu sebagaimana kejahatan yang kita lakukan akan menular. Maka mari kita pilih yang baik. Yang jelas manusia itu- sebagaimana sifat dasarnya-mudah atau setidaknya bisa tertular. Tapi jangan surut bila memang tidak sebagaimana harapan. Bahkan para Nabi dan Rasul pun diperingatkan oleh ALLAH SWT saat bersedih karena dakwahnya kurang mempan. Ayo terus berjuang!

Siapa?
Sekali lagi. Sungguh, boleh di survai. Tidak banyak yang mau memiliki sifat kepahlawanan meskipun banyak yang ingin disanjung sebagai pahlawan. Maka pertanyaan terbaiknya adalah siapa yang akan mewarisi peradaban dan tampil sebagai pahlawan? Jika bukan SAYA!ANDA! KITA!...Siapa lagi?
Semoga Allah AWJ membimbing dan memberikan inayah kepada kita agar tergolong menjadi hamba-Nya yang terbaik. Aamiin.Wallahu a’lam bishawwab.
Oleh
A.C. Ismoyo-ancismo@yahoo.com - Direktur Eksekutif LTMI Surabaya

2 komentar:

  1. Faizen mengatakan...

    Assalamualaikum wr. wb
    Artikel tentang kepahlawanan ini menarik sekali, mengajak kita menumbuhkan jiwa pahlawan, dan semoga semangat ini tetap istiqomah terjaga, tidak hanya karena tanggal 10 nopember sebagai hari pahlawan, tapi karena kita adalah umat muslim dan harus menjadi pahlawan yang memperjuangkan kebenaran Islam.
    Dan LTMI Surabaya sebagai pemuda intelek harus memberikan sumbangsihnya di bidang teknologi demi pembebasan manusia dari kapitalisme.
    Hidup LTMI Surabaya
    Yakin Usaha Sampai

  2. gunawan sepakat mengatakan...

    Assalamualaikum wr. wb
    saya minta konta persen nya wawan hmi cabang malang

Posting Komentar

Ahmas Faiz by Kesadaran. Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS