Menjadi Pahlawan >> Bagian 2 ~ LTMI™ CABANG SURABAYA

Menjadi Pahlawan >> Bagian 2

Rabu, 12 November 2008

Mengenang Kisah Pahlawan Masa Kini

Di tengah-tengah perubahan zaman yang terus bergulir (bagi mereka yang merasakan), kita patut bersyukur karena sesungguhnya “pahlawan” dan serial kepahlawanannya masih terus dirindukan dan dipraktikkan. Tapi jangan khawatir karena tentu tidak banyak. Alasan sederhana karena di zaman yang penuh gemerlap ini orang cenderung mudah senang, dan enggan menderita. Bila kita bertanya pada pakar sejarah maupun dongeng dari nenek sebelum bobo, mudah senang dan enggan menderita tidak ada dalam buku diari para pahlawan dan superhero. Meskipun demikan, bila ditelisik lebih detail tanpa bantuan google-earth sekalipun, di berbagai belahan dunia masih banyak orang-orang yang rela mengorbankan ego, kesenangan, harta, bahkan jiwa ditukar dengan cita-cita pembebasan, kesejahteraan masyarakat, dan kehidupan yang harmonis. Orang-orang itu bisa jadi tidak bercita-cita jadi pahlawan apalagi bergelar pahlawan nasional. Orang-orang tersebut beberapa malah terlihat seperti orang yang kurang kegiatan, terlalu serius, bahkan beberapa oknum menilai lebih parah sebagai kurang waras. Sebut saja pak “A” yang setiap malam keliling di sekitar rel kereta api daerah Jawa Barat. Dengan berjalan kaki hingga mencapai puluhan kilometer, membawa senter dan sebentuk kunci Inggris besar. Tentu bukan garong, tapi petugas yang senang memeriksa apakah rel kereta api yang terbuat dari besi tersebut masih sambung atau sudah digerogoti sesosok manusia pula atas nama kebutuhan perut. Ada juga pak “B” yang mengajari para petani cara menyilangkan tanaman dan menghasilkan bibit jagung hibrida di Kediri. Pada akhirnya ia harus berhadapan dengan “Sang-Jalut” – pabrik bibit yang memproduksi jagung hibrida atas paten hasil silang bibit. Akhirnya beliau pun dipenjara hanya karena membantu mengajarkan penyilangan tanaman yang bahkan Tuhan saja tidak pernah melarang.

Selain kisah tersebut ada pula orang yang membuat parit dari gunung dan dianggap gila, namun pada akhirnya seluruh masyarakat desa merasakan limpahan air segar untk mencukupi kehidupan dan pertanian mereka. Ada pula yang menanami lahan yang sangat luas kemudian jadi hutan. Ada pula yang memperhatikan dan merelakan liburannya untuk merawat hewan-hewan mungil bertempurung dari pantai yang hampir punah dimakan oleh manusia yang memiliki kecenderungan omnifora (sebagai amelioratif dari rakus). Demikian, meskipun tidak sebanyak orang yang ingin jadi artis-selebritis, masih banyak kisah nyata lain tentang orang-orang yang layak disebut pahlawan

0 komentar:

Posting Komentar

Ahmas Faiz by Kesadaran. Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS