Qurban Bersama YAHMINDO >> 10-11 Dzulhijjah 1429 H ~ LTMI™ CABANG SURABAYA

Sabtu, 13 Desember 2008 0 komentar

Hari Raya Idul Adha merupakan hari istimewa bagi umat muslim, dihari yang suci ini ibadah penting seperi haji dan qurban dilaksanakan, tidak heran pada hari ini akan diramaikan oleh umat muslim yang bersillaturrahmi. Selain, itu peryembelihan hewan qurban adalah puncak acara yang paling ditunggu-tunggu sebagai bentuk kepedulian sosial umat islam terhadap fakir miskin. Bukan hanya pengorbanan materil saja untuk memberi makna lebih dalam qurban, tapi masih terdapat pengorbanan tenaga, waktu, kepentingan, dll. LTMI Cabang Surabaya yang mengadakan acara penyembelihan hewan kurban bersama YAHMINDO (Yayasan Harapan Masyarakat Indonesia) pada Idul Adha 1429 H ini, mungkin akan sulit jika hanya mengandalkan pengorbanan materil. Betapa loyalitas dijunjung tinggi, karena disaat mahasiswa sedang melepas rindu dengan keluarga di kampung halaman, rekan-rekan LTMI Surabaya bersabar untuk tetap tinggal di Surabaya, mengorbankan waktu, demi langgengnya acara. Acara pemotongan kurban dijadikan 2 hari karena selain banyaknya hewan kurban,diharapkan pada hari kedua yang merupakan hari aktif kuliah, banyak kader yang datang untuk membantu prosesi acara.

Penyembelihan hewan qurban dimulai pagi hari jam 7 WIB, bertempat di sekretariat LTMI Surabaya, partisipasi masyarakat sekitar seperti takmir musholla sangat membantu lancarnya acara, mengingat minimnya jumlah panitia. Semua hewan qurban telah di sembelih dan dipotong dagingnya pukul 9 WIB, dan siap bagikan setelah ditimbang pada 12.30 WIB. Daging yang terkumpul, didistribusikan pada fakir miskin di sekitar gedung Yahmindo Surabaya, selain itu dibagikan pada fakir sekitar Korkom dalam lingkup Surabaya, yakni Sepuluh Nopember, Airlangga, dan Sunan Ampel.

Beberapa hikmah yang dapat kita petik acara Qurban Bersama ini adalah, HMI terus melestarikan nilai-nilai Islam dengan mengadakan acara untuk memperingati hari besar umat Islam, HMI harus berusaha untuk membaur lebih dekat dengan masyarakat dengan mengadakan kegiatan sosial yang dapat disertakan dalam perayaan hari besar tersebut. Perjuangan HMI membutuhkan pengorbanan besar setiap kadernya dilandasi dengan niat untuk berdakwah, bukan untuk berebut kekuasaan semata atau tujuan rendah lainnya. Sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim yang tulus ikhlas menjalankan perintah Allah untuk menyembelih putranya, maka kader HMI dapat meneladaninya menyembelih ego dan keakuannya demi perjuangan Islam. Inilah esensi sebenarnya dalam ibadah qurban, semoga kita sebagai umat Islam dapat istiqamah berjuang dengan ikhlas dan mendapatkan ridho-Nya, Amiin

Ahmas Faiz
LTMI Cabang Surabaya

Menjadi Pahlawan >> Bagian 3 (habis)

Rabu, 12 November 2008 2 komentar

Belajar Jadi Pahlawan

Bagaimana?

Meneladani kepahlawanan tentu saja bukan dari perbuatan asal aneh, asal bunyi, asal tulis (mungkin seperti tulisan ini), asal mati, bahkan asli tapi palsu. Jika diteliti dengan sepintas, maka ada beberapa sifat dominan yang menjadikan seorang layak disebut sebagai pahlawan. Dengan harapan pula sifat-sifat tersebut dapat kita praktikkan meskipun dengan apologi “belajar”. Sifat atau karakteristik para pahlawan tersebut antara lain :
1. Peduli. Tanpa kepedulian tidak akan tergerakkan. Tanpa tergerakkan takkan berhasil suatu perjuangan. Kepedulian seorang pahlawan lahir dari suatu idealisme yang mantap atau bahkan secara lebih sederhana karena cinta. Tentu saja cinta yang melampaui batas hasrat hewani, bukan cinta biasanya Siti Nurhaliza, apalagi cinta SMU.
Belajar peduli, berarti belajar mengerti. Tidak semua orang memiliki pengertian, karena tidak bergantung pada tingkat kecerdasan otak semata. Namun mengerti bisa dipelajari dan harus dilatih. Belajar mengerti berarti belajar menghayati kehidupan dan peran kita sebagai manusia di kehidupan. Untuk menghayati kehidupan harus banyak “iqra”, tapi jangan lupa berlandaskan “bismirabbikalladzi khalaq”. Karena sesuatu yang “dibaca” dan “dihimpun maknanya” tanpa Nama-Nya bisa tersesat. Tidak percaya?Dont try that at yourself, so just think about it.
2. Berani. Tanpa keberanian takkan terjadi. Kebenaran membutuhkan keberanian. Bahkan dalam sebuah hadits Rasul SAW dinyatakan bahwa orang yang melihat kemungkaran namun diam saja dijuluki sebagai setan bisu. Naudzubillahi min dzalik. Keberanian tidak selalu tampil dengan garang ataupun greng. Rasulullah SAW adalah seorang pemberani, namun tetap berwajah ceria dan santun. Keberanian akan terukur sejauh mana kita mau mengungkapkan bahkan memberikan kebenaran atau kebaikan saat keadaan tidak semestinya.
Belajar berani tidak sama dengan ikut olahraga yang ekstrim hingga harus loncat dengan kaki diikat ke bawah seperti posisi ayam yang dijual di pasar. Belajar berani juga tidak harus bertapa di tempat angker atau keramat. Belajar berani dapat dimulai dari jujur dan kritis terhadap apa yang terjadi kemudian mengambil sikap ksatria. Belajar berani juga melatih hati untuk tidak tunduk,rendah diri, dan takut kepada selain Allah AWJ.
3. Ikhlas. Tanpa keikhlasan segala kebaikan akan menguap. Sesuatu yang menguap tersebut tentu tidak akan membekas dengan baik. Para pahlawan yang benar-benar pahlawan melakukan perjuangannya dengan ikhlas. Mungkin tingkat ikhlas yang paling rendah adalah untuk kebaikan orang lain, orang banyak, dan ikhlas yang tertinggi hanya mencari ridla ALLAH SWT.
Belajar ikhlas tidak sama dengan tidak merasakan apapun dan membuat hati dan perasaan hampa. Belajar ikhlas dapat dimulai dari niatan yang benar karena Allah SWT. Kemudian meyakini bahwa segala kebaikan kita hakikatNya atas izinNya, sehingga tidak sombong, lalu berfokus pada kelemahan dan dosa untuk diperbaiki. Belajar ikhlas juga berarti belajar untuk mudah bersyukur dan bersabar. Sungguh luar biasa…!
4. Anda temukan dan praktikkan sendiri…
Begitulah, mudah diucap, mudah ditulis, tapi butuh perjuangan dalam pelaksanaan. Ternyata untuk menjadi pahlawan pun butuh perjuangan. Tapi kita harus bisa!

Darimana?Kapan?
Bisa dimulai darimana saja. Seperti kata Aa’ Gym dimulai dari diri sendiri , paling sederhana, dan lingkungan sekitar kita. Kapanpun. Adakah yang perlu dibenahi dari diri kita? lingkungan sekitar kita? Apa langkah sederhananya? InsyaAllah jika istiqamah akan menggaung dengan sendirinya, dan membuat yang lain ikut peduli dan tergerakkan. Sesungguhnya kebaikan itu sebagaimana kejahatan yang kita lakukan akan menular. Maka mari kita pilih yang baik. Yang jelas manusia itu- sebagaimana sifat dasarnya-mudah atau setidaknya bisa tertular. Tapi jangan surut bila memang tidak sebagaimana harapan. Bahkan para Nabi dan Rasul pun diperingatkan oleh ALLAH SWT saat bersedih karena dakwahnya kurang mempan. Ayo terus berjuang!

Siapa?
Sekali lagi. Sungguh, boleh di survai. Tidak banyak yang mau memiliki sifat kepahlawanan meskipun banyak yang ingin disanjung sebagai pahlawan. Maka pertanyaan terbaiknya adalah siapa yang akan mewarisi peradaban dan tampil sebagai pahlawan? Jika bukan SAYA!ANDA! KITA!...Siapa lagi?
Semoga Allah AWJ membimbing dan memberikan inayah kepada kita agar tergolong menjadi hamba-Nya yang terbaik. Aamiin.Wallahu a’lam bishawwab.
Oleh
A.C. Ismoyo-ancismo@yahoo.com - Direktur Eksekutif LTMI Surabaya

Menjadi Pahlawan >> Bagian 2

0 komentar

Mengenang Kisah Pahlawan Masa Kini

Di tengah-tengah perubahan zaman yang terus bergulir (bagi mereka yang merasakan), kita patut bersyukur karena sesungguhnya “pahlawan” dan serial kepahlawanannya masih terus dirindukan dan dipraktikkan. Tapi jangan khawatir karena tentu tidak banyak. Alasan sederhana karena di zaman yang penuh gemerlap ini orang cenderung mudah senang, dan enggan menderita. Bila kita bertanya pada pakar sejarah maupun dongeng dari nenek sebelum bobo, mudah senang dan enggan menderita tidak ada dalam buku diari para pahlawan dan superhero. Meskipun demikan, bila ditelisik lebih detail tanpa bantuan google-earth sekalipun, di berbagai belahan dunia masih banyak orang-orang yang rela mengorbankan ego, kesenangan, harta, bahkan jiwa ditukar dengan cita-cita pembebasan, kesejahteraan masyarakat, dan kehidupan yang harmonis. Orang-orang itu bisa jadi tidak bercita-cita jadi pahlawan apalagi bergelar pahlawan nasional. Orang-orang tersebut beberapa malah terlihat seperti orang yang kurang kegiatan, terlalu serius, bahkan beberapa oknum menilai lebih parah sebagai kurang waras. Sebut saja pak “A” yang setiap malam keliling di sekitar rel kereta api daerah Jawa Barat. Dengan berjalan kaki hingga mencapai puluhan kilometer, membawa senter dan sebentuk kunci Inggris besar. Tentu bukan garong, tapi petugas yang senang memeriksa apakah rel kereta api yang terbuat dari besi tersebut masih sambung atau sudah digerogoti sesosok manusia pula atas nama kebutuhan perut. Ada juga pak “B” yang mengajari para petani cara menyilangkan tanaman dan menghasilkan bibit jagung hibrida di Kediri. Pada akhirnya ia harus berhadapan dengan “Sang-Jalut” – pabrik bibit yang memproduksi jagung hibrida atas paten hasil silang bibit. Akhirnya beliau pun dipenjara hanya karena membantu mengajarkan penyilangan tanaman yang bahkan Tuhan saja tidak pernah melarang.

Selain kisah tersebut ada pula orang yang membuat parit dari gunung dan dianggap gila, namun pada akhirnya seluruh masyarakat desa merasakan limpahan air segar untk mencukupi kehidupan dan pertanian mereka. Ada pula yang menanami lahan yang sangat luas kemudian jadi hutan. Ada pula yang memperhatikan dan merelakan liburannya untuk merawat hewan-hewan mungil bertempurung dari pantai yang hampir punah dimakan oleh manusia yang memiliki kecenderungan omnifora (sebagai amelioratif dari rakus). Demikian, meskipun tidak sebanyak orang yang ingin jadi artis-selebritis, masih banyak kisah nyata lain tentang orang-orang yang layak disebut pahlawan

Menjadi Pahlawan >> Bagian I - Refleksi Hari Pahlawan 10 Nopember -

0 komentar

Menghargai Pahlawan

Suatu hari, di beberapa belahan bumi Indonesia, sekelompok orang berpakaian dominan putih, berbaris rapi bak tentara, seorang diantaranya terlihat membawa bendera.Di sekitar mereka sang pasukan berbaju putih tampak orang-orang sedang berdiri meskipun dengan pandangan dan pikiran yang sulit diterka. Di antara mereka ada yang berbaju safari, berseragam batik dan peci kuning-keoranyean, berseragam tentara, pegawai negeri, anak-anak sekolah, namun hampir dipastikan tidak ada yang tidak berbaju (karena tidak mampu beli baju). Tak lama kemudian bendera mulai dikibarkan dan lagu dikumandangkan, sontak hampir serentak atas komando seorang yang berteriak di tengah lapangan, maka orang-orang yang berada di area tersebut mengangkat tangan dan menjatuhkan sisi samping dalam telapak tangan di sekitar alis mereka. Itulah yang konon disebut dengan cara menghormat. Dan aksi dramatis massa tersebut disebut upacara bendera. Rupanya hari tersebut adalah hari yang diperingati sebagai hari pahlawan. Boleh yakin bila di belahan bumi Indonesia yang lain akan melakukan aksi yang serupa, tergantung tingkat kesadaran, hingga tingkat kepentingan dan kebutuhan. Beberapa stasiun radio dan televisi menganjurkan untuk mengheningkan cipta pada detik-detik tertentu dengan harapan mendoakan para pahlawan yang telah gugur membela negeri kita yang tercinta ini (?).
Dan hampir sejak kemerdekaan Negara ini diproklamirkan, model penghargaan para pahlawan akan sebatas itu. Kalau lebih baik sedikit diteruskan dengan safari ke makam-makam yang konon bersemayam para pahlawan, yang umumnya kebanyakan dari militer (apa iya?). Lebih aneh lagi (karena mungkin hanya di Indonesia), ada kalangan yang meributkan gelar kepahlawanan. Karena alasan jasa dan pengabdian seorang selama memimpin negeri ini, maka mantan presiden yang akhirnya dipaksa turun secara kontroversial oleh teman-teman mahasiswa dimintakan gelar pahlawan. Angin (debat) pun berhembus kencang. Sementara itu baru saja akhir-akhir ini, orang yang meneriakkan “Allahu Akbar” dan menggerakkan “banteng-banteng” melalui RRI pada tanggal 10 Nopember 1945 dinyatakan baru mendapatkan gelar resmi sekitar tanggal 10 Nopember 2008. Bayangkan saja, sampai butuh 63 tahun mendapat titel “PN” alias pahlawan nasional. Seandainya gelar pahlawan bisa beli seperti di oknum perguruan tinggi swasta tentu dibutuhkan syarat pahlawan untuk menjadi calon legislatif hingga presiden. Atau karena melanggengkan kebiasaan beberapa manusia Indonesia yang menghargai seseorang ketika ia telah tiada. Satu lagi yang aneh, karena terlalu banyak informasi yang mulai berlebihan, maka ada yang mencoba membingungkan masyarakat Indonesia tentang perbedaan “pahlawan” dan “teroris”.

Pelatihan MindMap

Senin, 27 Oktober 2008 0 komentar

Mind Map (peta pikiran) merupakan metode penyelesaian masalah dengan menggunakan prinsip kerja otak yang berbertik jejaring dan cabang-cabang berkesinambungan. Melihat pentingnya mindmap, maka LTMI cabang Surabaya mengadakan pelatihan internal mengenai mindmap, yang di bantu oleh Kanda Bagus sebagai pemilik On Divine (Lembaga Kelola Daya Otak). Pelatihan Bertempat di gedung Sinoman Arek Suroboyo, dilaksanakan pada bulan September bertepatan dengan bulan Ramadhan.

hai kawan-kawan apa khabar

Sabtu, 20 September 2008 4 komentar

InsyaAllah kami segera mengudara

Ahmas Faiz by Kesadaran. Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS